
MetronusaNews.id | LOMBOK TENGAH, NTB — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Sebanyak 352 siswa dari lima sekolah di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG (11/09/26).
Salah satu sekolah yang terdampak adalah SDN Beber. Puluhan hingga ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, sakit perut dan lemas sehingga harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Situasi sempat diwarnai kepanikan. Orang tua dan warga terlihat berbondong-bondong membawa para siswa menuju fasilitas kesehatan terdekat menggunakan kendaraan pribadi maupun sepeda motor.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian tersebut tidak hanya terjadi di SDN Beber. Siswa dari beberapa sekolah lainnya juga dilaporkan mengalami keluhan serupa, di antaranya SDN 2 Lendang Tampel, SDN Repok Puyung, SDN Mertak Kesambik dan MTs Qudwatun Hasanah.
Sampel Makanan Diperiksa
Makanan yang dikonsumsi para siswa disebut berasal dari SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu. Menu yang dibagikan antara lain kebab dengan daging ayam, stik tempe, timun, selada dan salak.
Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah keluhan yang dialami para siswa memang berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi.
Sementara itu, aparat kepolisian juga melakukan penyelidikan dan mendatangi lokasi SPPG guna mengumpulkan informasi serta memastikan proses penyediaan dan distribusi makanan sesuai dengan prosedur keamanan pangan.
Jangan Gegabah Menyimpulkan
Meski kejadian ini ramai disebut sebagai “keracunan MBG”, penyebab pastinya belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan selesai.
Karena itu, semua pihak diminta tidak terburu-buru menyimpulkan sumber penyebab kejadian. Namun, jumlah siswa yang terdampak dalam satu rangkaian distribusi makanan menjadi alasan kuat agar proses investigasi dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
Pertanyaan publik kini mengarah pada standar pengolahan, penyimpanan, waktu distribusi, kualitas bahan makanan hingga penerapan SOP keamanan pangan di SPPG.
Program MBG pada prinsipnya ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak. Karena itu, ketika muncul dugaan gangguan kesehatan setelah makanan dibagikan, aspek keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
Masyarakat dan orang tua siswa juga berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai hasil pemeriksaan serta langkah evaluasi yang akan dilakukan pemerintah dan pengelola SPPG.
*Dihimpun dari berbagai sumber
