GUNUNG ANAK KRAKATAU KEMBALI ERUPSI, AKTIVITAS MENINGKAT — WARGA DIMINTA WASPADA

  • Bagikan

MetronusaNews.id | SELAT SUNDA  — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan. Erupsi terjadi secara berulang dalam beberapa jam terakhir, disertai suara gemuruh, dentuman dan semburan material vulkanik.

Berdasarkan informasi pemantauan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau masih berada pada Status Level III (Siaga). Masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif.

Pada Sabtu malam, 5 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus. Aktivitas tersebut secara visual diinterpretasikan sebagai lava fountain, yakni semburan lava pijar dari pusat erupsi.

Aktivitas kembali tercatat pada Minggu dini hari, 6 September 2026. Salah satu erupsi terjadi sekitar pukul 03.53 WIB dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi sekitar 30 detik. Erupsi kembali dilaporkan terjadi sekitar pukul 07.10 WIB dengan amplitudo maksimum sekitar 50 mm dan durasi 16 detik.

Peningkatan aktivitas tersebut juga disertai potensi penyebaran abu vulkanik. Kondisi angin dapat membawa material abu menuju sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda dan bagian barat Pulau Jawa maupun selatan Sumatra.

PENERBANGAN TURUT TERDAMPAK

Sebaran abu vulkanik menjadi perhatian serius karena dapat mengganggu keselamatan penerbangan. Aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah berdampak terhadap operasional penerbangan di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Abu vulkanik yang masuk ke jalur penerbangan dapat mengganggu mesin pesawat dan sistem navigasi sehingga pergerakannya harus terus dipantau oleh otoritas terkait.

RADIUS 3 KILOMETER DILARANG DIMASUKI

PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan, nelayan maupun pihak lainnya untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Potensi bahaya yang harus diwaspadai meliputi lontaran material vulkanik, lava pijar, awan panas serta hujan abu dengan intensitas lebat.

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal resmi pemerintah.

BELUM ADA INDIKASI TSUNAMI AKIBAT RUNTUHNYA GUNUNG

Di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik, isu potensi tsunami kembali menjadi perhatian masyarakat. Namun, berdasarkan evaluasi Badan Geologi terhadap kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini, tubuh gunung yang terbentuk setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil.

Badan Geologi menyatakan berdasarkan kondisi tersebut belum terdapat indikasi bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini berpotensi runtuh dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan secara intensif karena karakter aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.

METRONUSANEWS.ID — AKTUAL, TAJAM & TERPERCAYA

Penulis: TimEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *