
MetronusaNews.id | PATI — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah ratusan siswa dan sejumlah guru di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami mual, sakit perut, muntah hingga diare setelah menyantap menu MBG.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 8 September 2026, sementara keluhan mulai banyak dilaporkan pada Rabu (9/9). Dua sekolah yang menjadi lokasi utama kejadian adalah MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong.
231 siswa terdampak
Data yang dihimpun pada Rabu siang menunjukkan sedikitnya 231 siswa diduga mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG. Rinciannya, 127 siswa MTs Negeri 3 Pati, 103 siswa SMP Negeri 1 Gembong, serta satu siswa dari MTs Mambaul Ulum.
Namun, angka tersebut masih berkembang. Pada Rabu malam, laporan Media Indonesia menyebut jumlah yang mengalami gejala telah mencapai 273 siswa dan 43 guru di dua sekolah utama. Perbedaan angka menunjukkan proses pendataan masih berlangsung.
Para korban dilaporkan mengalami mual, pusing, sakit perut, muntah, diare dan lemas.
Puluhan ambulans dikerahkan
Penanganan korban berlangsung di sejumlah fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Pati bahkan mengerahkan 29 ambulans untuk mengevakuasi siswa dari sekolah menuju fasilitas kesehatan.
Puskesmas Gembong sempat mengalami kelebihan kapasitas sehingga sebagian korban kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati dan rumah sakit lainnya.
Berdasarkan data sementara yang dilaporkan pada Rabu, sebanyak 92 siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Gembong, 98 siswa ditangani di IGD RSUD Soewondo, dan 41 siswa dibawa ke RS Mitra Bangsa.
Menu nasi bakar dan ayam suwir
Siswa menyebut menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya antara lain nasi bakar dengan ayam suwir, telur, dan sejumlah pelengkap.
Sejumlah pihak sekolah juga mengungkapkan bahwa makanan datang lebih lambat dari jadwal biasanya. Di MTs Negeri 3 Pati, makanan disebut tiba sekitar pukul 12.00, sementara waktu makan siswa biasanya sekitar pukul 11.20.
Meski demikian, keterlambatan distribusi belum dapat dinyatakan sebagai penyebab keracunan.
Sampel makanan diperiksa di laboratorium
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, menegaskan bahwa kejadian tersebut masih berstatus dugaan. Pemerintah belum dapat memastikan apakah makanan MBG menjadi penyebab munculnya gejala.
Tim kesehatan telah mengambil sampel makanan dari bank sampel SPPG untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu.
Karena itu, istilah “MBG beracun” belum dapat dipastikan secara ilmiah sebelum hasil uji laboratorium keluar.
SPPG Gembong 1 ditutup sementara
Sebagai langkah awal penanganan, SPPG Gembong 1 dihentikan sementara. Penghentian tersebut dilakukan sembari investigasi dan pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui sumber persoalan.
Pemerintah daerah juga melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Kasus Pati kini menjadi perhatian serius karena menyangkut keamanan makanan yang dikonsumsi ratusan pelajar. Publik menunggu hasil uji laboratorium untuk menjawab pertanyaan utama: apakah benar makanan MBG menjadi sumber gangguan kesehatan tersebut, atau terdapat faktor lain dalam proses pengolahan, penyimpanan maupun distribusinya?
*Dikutip dari berbagai sumber
