
Metronusa News, Banjarnegara, Jawa Tengah – Kerajinan tikar pandan yang hingga kini masih bertahan di Dusun Mawangi bukan sekadar produk anyaman biasa, namun ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini, dibalik setiap helai anyaman tersimpan kisah sejarah masa lalu yang dipercaya oleh masyarakat setempat, berasal dari cerita yang berkaitan dengan kisah Babad Banyumas.
Siswandi ketua RT 04/Rw07 Dusun Mawangi desa somawangi Mandiraja saat ditemui wartawan pada minggu (19/7/2026) mengungkapkan bahwa, “tradisi menganyam tikar pandan di Dusun Mawangi sudah sejak dahulu, yang bermula dari kisah sejarah seorang mbok emban atau abdi dalem dari seorang putri mataram bernama Roro Jaenah putri yang di angkat anak oleh ki Rumpak Baya wareng yang selanjutnya di nikahkan dengan Raden Somawangi.
Dikisahkan,”mbok emban dari sang putri tersebut berhasil memenangkan sebuah sayembara. “siapa yang sanggup mendirikan kembali masjid yang roboh akan di beri hadiah, dan sayembara itu diselenggarakan oleh seorang kyai Terkenal di masjid Agung pada masa Kadipaten Banyumas sebagai bentuk penghargaan,
“ia menerima hadiah berupa tikar pandan.sebagai hadiah, selanjutnya hadiah tersebut kemudian di bawa pulang ke dusun mawangi, “dan sejak saat itu tikar pandan diwariskan kepada keturunannya.
dan akhirnya hal ini menjadi inspirasi bagi masyarakat Dusun Mawangi Mandiraja Banjarnegara untuk mengembangkan keterampilan menganyam daun pandan berduri menjadi anyaman tikar Hingga saat ini ” Jelasnya

Menurutnya dari generasi ke generasi, tradisi itu terus dipelihara hingga akhirnya Dusun Mawangi ini menjadi salah satu dusun yang mayoritas masyarakatnya menjadi pengrajin tikar pandan hingga saat ini.pengrajin yang aktif mencapai kurang lebih 150.orang. Pungkasnya,
Dilokasi yang berbeda namun masih di dusun Mawangi Somawangi Mandiraja sejumlah pengrajin saat ditemui wartawan mengatakan hal yang sama
bahwa “Proses pembuatan tikar pandan masih dilakukan secara tradisional, mulai dari pemanenan daun pandan, pembersihan duri maupun penjemuran, penghalusan, , hingga proses menganyam,
Proses tersebut memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. sehingga setiap helai tikar memiliki nilai seni yang sekaligus mencerminkan kearifan lokal dari masyarakat dusun Mawangi. dan hingga saat ini terjadi karena tikar pandan karya masyarakat dusun Mawangi memiliki ciri khas tersendiri, diantaranya, “anyaman yang halus kecil kecil dan rapi Ungkapnya

Selanjutnya sejumlah warga pengrajin saat ditemui wartawan mengungkapkan bahwa memang selama ini belum ada pihak pihak dan instansi terkait menyambangi kami, “apalagi memberikan pelatihan dan bantuan, modal dana,dan membantu pemasaran produk. pokoknya sama sekali tidak pernah ada, “padahal kan ini termasuk dapat mengembangkan UMKM dan sekaligus melestarikan kerajinan atau budaya lokal.” Ujarnya.
Namun ironisnya nya Pihak Pemerintah desa dan Pihak instansi terkait diduga tidak tanggap dan kurang memberikan perhatian dengan adanya potensi karya masyarakat desa diwilayahnya,
Para pengrajin tikar pandan di dusun Mawangi Mandiraja berharap agar kerajinan tikar pandan bisa di akui dan di kenal masyarakat luas,dan memiliki harga yang layak “sehingga sepadan dengan proses pembuatannya yang rumit dan lama. “Tikar pandan tidak hanya sebagai warisan budaya, “tetapi di harapkan mampu menjadi produk unggulan atau icon yang dapat meningkatkan komoditas dan meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat serta menarik perhatian masyarakat luas, bahkan dapat di kenal oleh pecinta kerajinan tradisional di luar daerah.

Kerajinan tikar pandan diusun Mawangi Desa Somawangi Mandiraja Banjarnegara ini menjadi bukti bahwa sejarah, tradisi, dan budaya lokal dapat terus hidup melalui karya tangan masyarakat yang menjaga warisan leluhur hingga saat ini ,walau mereka tak tersentuh bimbingan maupun pelatihan dan dukungan dari pihak pihak terkait Publik dan masyarakat pengrajin anyaman tikar pandan dusun Mawangi menunggu langkah dan perhatian pihak pemdes dan pihak terkait lainnya di Pemkab Banjarnegara.
Hingga berita ini di rilis dan diterbitkan belum ada tanggapan resmi dari pihak pemdes Maupun dari pihak pihak terkait dilingkungan Pemkab Banjarnegara.
(Ratih)
