
MetronusaNews.id | LABURA – Ini bukan pemberantasan, melainkan pergantian aktor. Begitu WW masuk DPO dan jaringannya tertekan, tak butuh waktu lama hingga muncul pengganti ,Tfik kini diduga resmi memangku kendali peredaran sabu di wilayah labuhanbatu Utara. Lokasi pun digeser, bukan lagi di Lorong 6 yang sudah terbuka, melainkan pindah markas ke belakang SPBU Aek Kanopan posisi strategis, ramai lalu lintas, dan lebih sulit dipantau.
Yang lebih mencurigakan: pergantian ini berjalan mulus seolah sudah diatur matang.
Tfik hanya duduk di kursi depan, sementara sosok berinisial KK tetap memegang kendali penuh, mengatur pasokan, mengoordinir jaringan hingga ke luar daerah Aek Kanopan, dan menjamin aliran barang haram tak pernah putus.
Apa artinya ini? Bahwa yang dibongkar selama ini hanyalah kulit luarnya, bukan akarnya.
WW buron, lapak dipindah, nama diganti tapi sistem, jaringan, dan kemungkinan perlindungan di balik layar tetap kokoh berdiri. Transaksi berjalan terang‑terangan di balik SPBU, warga tahu siapa yang berkuasa baru, polisi pasti punya data, tapi kenapa lagi‑lagi hanya terjadi pergantian pemain tanpa pemutusan rantai?
Apakah operasi yang digembar‑gemborkan hanya sekadar pindah lapak dan ganti nama? Jika Tfik dengan cepat menggantikan posisi WW, dan KK tetap bebas mengatur lintas daerah, berarti penegakan hukum di sini gagal total menembus jantung sindikat.
Masyarakat Labura menuntut jawaban tegas dari Polres Labuhan batu dan BNN :
-Tangkap Tfik sekarang juga sebelum makin mengakar
– Lacak dan tahan KK yang nyata‑nyata masih mengatur pasokan
– Jangan biarkan peredaran sabu hanya berganti wajah tapi tetap meracuni generasi muda
Hukum tidak boleh kalah gesit dengan kejahatan. Pergantian pemain membuktikan satu hal selama akarnya tidak dicabut, pohon racun ini akan terus tumbuh dengan wajah baru.
