
MetronusaNews.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.483 hingga Rp17.500 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh level intraday terlemah sepanjang sejarah.
Data perdagangan menunjukkan rupiah dibuka di level sekitar Rp17.489 per dolar AS, melemah dibanding penutupan sebelumnya di kisaran Rp17.414 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi sorotan serius pelaku pasar dan pemerintah karena menyentuh batas psikologis yang cukup krusial.
Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia, nilai tukar resmi tercatat dengan kurs jual dolar AS sebesar Rp17.502,08 dan kurs beli Rp17.327,92. Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap pasar keuangan domestik.
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Di antaranya adalah penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, arus keluar modal asing dari negara berkembang, hingga tingginya kebutuhan dolar untuk pembayaran utang valas korporasi domestik pada periode April hingga Mei.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan intervensi besar dan berkelanjutan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Intervensi tersebut dilakukan baik di pasar domestik maupun offshore, termasuk melalui penguatan kebijakan moneter dan pengawasan terhadap pembelian valuta asing. BI juga memperketat aturan pembelian dolar dengan menurunkan ambang batas dokumen pendukung transaksi menjadi US$25.000 per bulan.
Pelaku pasar kini terus memantau apakah rupiah mampu bertahan di level Rp17.500 per dolar AS atau justru berpotensi melemah lebih dalam dalam beberapa hari ke depan.
Pemerintah berharap langkah cepat dan terukur dari Bank Indonesia dapat meredam gejolak pasar serta menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional yang tengah menghadapi tekanan global cukup berat.
