
MetronusaNews.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/4/2026) tercatat masih berada dalam tekanan. Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.300 per dolar AS, mencerminkan tren pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data pasar dan kurs referensi, posisi rupiah saat ini menunjukkan tekanan yang cukup signifikan dibandingkan awal tahun. Bahkan, dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, rupiah sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS, yang menjadi salah satu titik terlemah dalam periode terkini.
Pengamat pasar keuangan menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari kuatnya tekanan eksternal. Penguatan dolar AS secara global masih menjadi faktor dominan, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia serta dinamika geopolitik yang memicu kehati-hatian investor.
Selain itu, arus modal asing yang cenderung keluar dari pasar negara berkembang turut memperberat posisi rupiah. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara tekanan terhadap mata uang domestik semakin kuat.
Di sisi lain, respons kebijakan moneter dalam negeri dinilai masih menjadi faktor penopang agar pelemahan tidak berlangsung lebih dalam. Stabilitas sistem keuangan tetap dijaga melalui berbagai instrumen yang dimiliki otoritas.
Meski demikian, pelaku pasar masih menantikan arah kebijakan global, terutama terkait suku bunga dan kondisi ekonomi Amerika Serikat, yang dinilai akan sangat memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat.
Kesimpulan, rupiah saat ini berada dalam fase tertekan di level tinggi, dengan kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, dan masih berpotensi berfluktuasi mengikuti dinamika global. Pemerintah dan otoritas keuangan diharapkan terus menjaga stabilitas guna meredam volatilitas yang berlebihan.
