
MetronusaNews.id | BOGOR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak Indonesia. Namun, munculnya sejumlah laporan dugaan keracunan setelah konsumsi makanan MBG harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.
Michael Hutasoit menilai keselamatan penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah, harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
“Jangan sampai kita menunggu korban bertambah banyak baru melakukan evaluasi. Setiap kejadian dugaan keracunan harus menjadi alarm untuk memperbaiki sistem,” demikian pandangan Michael Hutasoit.
Menurutnya, keberhasilan MBG tidak semestinya hanya diukur berdasarkan jumlah porsi yang berhasil didistribusikan. Kualitas, kebersihan, keamanan bahan pangan, proses pengolahan, penyimpanan hingga distribusi juga harus menjadi indikator utama.
Jangan Kompromi dengan Keamanan Pangan
Makanan yang diberikan kepada anak-anak harus melewati standar keamanan pangan yang ketat. Mulai dari pemilihan bahan baku, kondisi dapur, kebersihan peralatan, kualitas air, proses memasak, pengemasan hingga waktu pengiriman harus diawasi.
Jika terdapat satu saja tahapan yang bermasalah, risiko terhadap kesehatan penerima manfaat dapat meningkat.
Karena itu, pengawasan tidak boleh bersifat administratif semata. Pemeriksaan di lapangan harus benar-benar memastikan bahwa standar keamanan pangan dijalankan.
“Anak-anak bukan objek percobaan. Mereka adalah generasi yang sedang kita siapkan untuk masa depan. Karena itu, makanan yang diberikan kepada mereka harus benar-benar aman,” tegas Michael.
Evaluasi Harus Menyeluruh
Setiap laporan dugaan keracunan MBG juga perlu ditangani secara transparan dan berbasis pemeriksaan ilmiah.
Pemerintah dan lembaga terkait perlu memastikan penyebab kejadian melalui pemeriksaan sampel makanan, pemeriksaan kesehatan korban serta evaluasi terhadap proses produksi dan distribusi.
Langkah tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menerima informasi berupa dugaan atau spekulasi, tetapi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Apabila ditemukan pelanggaran standar, tindakan korektif harus dilakukan dengan tegas dan segera.
Kepercayaan Orang Tua Dipertaruhkan
Menurut Michael Hutasoit, persoalan keamanan MBG bukan hanya mengenai makanan, tetapi juga menyangkut kepercayaan orang tua terhadap program pemerintah.
Orang tua harus merasa aman ketika anak mereka menerima makanan MBG di sekolah.
Jangan sampai muncul kekhawatiran bahwa makanan yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan gizi justru berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki standar operasional yang jelas dan benar-benar menerapkannya.
Michael menegaskan, kritik terhadap pelaksanaan MBG tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap program tersebut.
Sebaliknya, kritik publik dapat menjadi bagian dari pengawasan agar program yang memiliki tujuan baik tersebut semakin kuat.
“Programnya baik, tetapi pelaksanaannya harus terus diperbaiki. Jangan sampai target distribusi mengalahkan aspek keselamatan. Lebih baik memperlambat ekspansi apabila diperlukan, daripada membiarkan risiko terhadap anak-anak,” ujarnya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MBG bukan sekadar berapa juta makanan yang dibagikan, tetapi berapa banyak anak yang mendapatkan makanan bergizi dengan aman dan tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
Jangan tunggu korban bertambah. Keamanan pangan harus menjadi garis merah dalam pelaksanaan MBG.
