
MetronusaNews.id — Gejolak ekonomi global sepanjang 2026 kembali menekan sejumlah mata uang dunia. Berdasarkan berbagai laporan ekonomi internasional dan data nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (USD), beberapa mata uang tercatat mengalami pelemahan signifikan hingga masuk kategori mata uang terlemah di dunia.
Posisi teratas ditempati mata uang Iran, yakni Rial Iran (IRR), yang nilainya terus merosot tajam akibat tekanan sanksi ekonomi internasional, inflasi tinggi, hingga konflik geopolitik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Saat ini, nilai tukar Rial Iran dilaporkan telah mencapai lebih dari 1 juta IRR untuk 1 USD di pasar tertentu. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat Iran semakin tertekan dan memicu ketidakstabilan ekonomi domestik.
Selain Iran, Lebanon juga mengalami krisis mata uang serius. Pound Lebanon (LBP) terus kehilangan nilai akibat krisis perbankan dan ketidakpastian politik yang belum terselesaikan selama beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, mata uang Asia Tenggara seperti Dong Vietnam (VND), Kip Laos (LAK), hingga Rupiah Indonesia (IDR) turut masuk daftar mata uang dengan nominal terlemah terhadap dolar AS.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai posisi rupiah dalam daftar tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan lemahnya ekonomi nasional. Faktor denominasi nominal mata uang menjadi salah satu penyebab utama rupiah terlihat “murah” dibanding dolar AS.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah di tengah tekanan global, termasuk intervensi pasar dan penguatan cadangan devisa negara.
Berikut daftar mata uang terlemah di dunia versi sejumlah lembaga ekonomi internasional tahun 2026:
1.Rial Iran (IRR)
2.Pound Lebanon (LBP)
3.Dong Vietnam (VND)
4.Kip Laos (LAK)
5.Rupiah Indonesia (IDR)
6.Som Uzbekistan (UZS)
7.Franc Guinea (GNF)
8.Franc Burundi (BIF)
9.Ariary Madagaskar (MGA)
10.Guarani Paraguay (PYG)
Pengamat ekonomi menilai pelemahan mata uang di sejumlah negara dipicu kombinasi inflasi tinggi, beban utang luar negeri, konflik politik, hingga lemahnya sektor produksi nasional.
Di tengah kondisi tersebut, dolar Amerika Serikat masih menjadi mata uang global paling dominan dan dianggap sebagai aset aman (safe haven) oleh investor dunia.
