
MetronusaNews.id | Jakarta — Media internasional ternama The Economist menyoroti arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam laporan terbarunya yang terbit 14 Mei 2026. Dalam artikel berjudul “Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy”, majalah asal Inggris tersebut menilai sejumlah kebijakan pemerintah berpotensi memberi tekanan terhadap stabilitas fiskal, kepercayaan investor, hingga kualitas demokrasi nasional.
Sorotan utama tertuju pada program prioritas nasional seperti makan bergizi gratis yang disebut memiliki nilai anggaran sangat besar, yakni sekitar Rp335 triliun atau setara US$19 miliar.
The Economist menilai besarnya belanja negara untuk program tersebut dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dan mendorong defisit anggaran mendekati batas aman.
Dalam laporannya, defisit fiskal Indonesia tahun 2025 disebut telah mencapai sekitar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sangat dekat dengan batas legal 3 persen yang selama ini menjadi simbol disiplin fiskal Indonesia. Kondisi ini dinilai dapat memicu kekhawatiran pasar apabila belanja negara terus meningkat tanpa reformasi pendapatan yang kuat.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian. Mata uang Indonesia disebut berada dekat level terlemah dalam sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai semakin agresif dan intervensionis.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Namun The Economist menilai target tersebut terlalu ambisius tanpa reformasi struktural besar di sektor investasi, industri, dan produktivitas tenaga kerja. Banyak ekonom memperkirakan pertumbuhan realistis Indonesia masih berada di kisaran 5 hingga 5,5 persen.
Tidak hanya soal ekonomi, laporan tersebut juga menyoroti konsolidasi kekuasaan politik yang dinilai dapat memengaruhi iklim investasi. Kepastian hukum, independensi institusi, dan kualitas demokrasi disebut menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan bisnis global terhadap Indonesia.
Meski demikian, data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2026 tumbuh 5,61 persen, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idulfitri, serta aktivitas investasi yang masih cukup kuat.
Pengamat menilai kritik dari media internasional seperti The Economist perlu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar pembangunan ekonomi tetap berjalan seimbang antara pertumbuhan, stabilitas fiskal, dan kepercayaan publik.
Dengan tantangan global yang masih tinggi, Indonesia dinilai harus menjaga keseimbangan antara ambisi pembangunan dan kehati-hatian fiskal agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
