Ratusan Siswa SMP di Makale Diduga Keracunan Usai Santap MBG

  • Bagikan

MetronuaaNews.id | TANA TORAJA  — Ratusan siswa dan guru di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Makale dan kini menjadi perhatian pemerintah daerah serta aparat kepolisian.

Keluhan mulai dirasakan sejumlah siswa sejak Rabu malam hingga Kamis pagi. Gejala yang dilaporkan antara lain mual, muntah, diare, sakit perut, sakit kepala, serta kondisi tubuh lemas.

Korban dilaporkan berasal dari SMP Negeri 1 Makale dan SMP Negeri 2 Makale. Sejumlah siswa dan guru kemudian mendapatkan penanganan medis di beberapa fasilitas kesehatan di Makale.

Berdasarkan laporan sementara, jumlah korban masih dalam proses pendataan dan terdapat perbedaan angka dalam sejumlah laporan. Data yang dikutip dari Dinas Kesehatan menyebut sekitar 150 siswa dan guru mengalami keluhan kesehatan.

Makanan MBG yang dikonsumsi sebelumnya dilaporkan berasal dari SPPG Batupapan/Makale Batupapan 1. Menu yang dibagikan antara lain nasi, ayam bumbu kuning, tempe goreng tepung, tumis sayur, dan melon.

POLISI AMANKAN SAMPEL MAKANAN

Polres Tana Toraja bergerak melakukan penyelidikan. Polisi mengamankan sampel makanan dan minuman dari dapur SPPG untuk diperiksa di laboratorium BPOM Makassar.

Selain sampel makanan, sampel muntahan dari sejumlah siswa juga dikirim untuk membantu proses pemeriksaan guna mengetahui kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para korban.

Kapolres Tana Toraja AKBP Budy Hermawan mengimbau masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Jika nantinya hasil pemeriksaan menunjukkan adanya persoalan pada makanan yang dikonsumsi, aparat akan mendalami kemungkinan adanya kelalaian dalam proses pengolahan, penyimpanan maupun distribusi makanan.

PENYEBAB BELUM DIPASTIKAN

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja juga menyatakan bahwa penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan. Pemeriksaan masih diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan MBG atau faktor lainnya.

Dengan demikian, istilah “diduga keracunan” masih menjadi pilihan yang tepat dalam pemberitaan sampai hasil laboratorium resmi diterbitkan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi sorotan terhadap pentingnya pengawasan ketat dalam setiap tahapan program MBG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, kebersihan dapur, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada para penerima manfaat.

Publik kini menunggu hasil pemeriksaan BPOM Makassar yang diharapkan dapat menjawab pertanyaan utama: apa sebenarnya yang menyebabkan puluhan hingga ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan setelah mengonsumsi makanan MBG?

Penulis: TimEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *