
MetronusaNews.id | JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal Mei 2026 masih berada dalam tekanan dan bertahan di kisaran Rp17.300 per dolar AS. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan pelemahan signifikan dibandingkan posisi awal tahun sebelumnya.
Berdasarkan data kurs transaksi Bank Indonesia (BI), nilai tukar dolar AS tercatat pada kisaran Rp17.237 untuk kurs beli dan Rp17.410 untuk kurs jual. Sementara di pasar spot, rupiah diperdagangkan sekitar Rp17.325 hingga Rp17.334 per dolar AS.
Pelemahan ini bahkan sempat membawa rupiah menyentuh level terendah baru pada April 2026, yakni sekitar Rp17.393 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab utama melemahnya mata uang Garuda. Di antaranya adalah penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed), tekanan fiskal domestik, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia yang mendorong investor memburu aset aman seperti dolar AS.
Pengamat ekonomi menilai, kondisi ini berpotensi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional, terutama pada sektor impor, industri manufaktur, hingga harga kebutuhan pokok yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi harga emas domestik yang cenderung naik seiring penguatan dolar AS. Masyarakat pun diimbau untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran serta memperhatikan perkembangan ekonomi global.
Jika dibandingkan dengan awal tahun 2025, saat dolar AS masih berada di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800, maka posisi saat ini menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap stabilitas nilai tukar nasional.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar, penguatan cadangan devisa, serta menjaga kepercayaan investor agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh dinamika global, sehingga sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal tetap menjadi kunci utama menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
