
MetronusaNews.id | Papua Barat Daya
Jalan Nasional lintas Sorong–Maybrat–Sorong Selatan kembali memakan korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan roda dua dan roda empat.
Peristiwa terbaru terjadi pada Selasa (11/03/2026) sekitar KM 70, dekat jalan masuk Distrik Sayosa, Kabupaten Sorong. Dalam kecelakaan tersebut, sebuah sepeda motor dilaporkan bertabrakan dengan truk Pertamina.
Akibat kejadian tersebut, seorang pengendara motor bernama Yakob Kocu, warga Kampung Kumurkek, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, meninggal dunia di tempat kejadian.
Jalan nasional yang menghubungkan wilayah Sorong, Maybrat, dan Sorong Selatan belakangan ini menjadi sorotan publik karena kerap terjadi kecelakaan lalu lintas, baik yang menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi.
Berdasarkan data dari Polres Sorong dan Polres Maybrat, dalam kurun waktu 2023 hingga 2025 tercatat 47 kasus kecelakaan lalu lintas di jalur tersebut. Dari jumlah tersebut, 19 kasus berakibat fatal (meninggal dunia), sementara 28 lainnya menyebabkan korban luka berat maupun ringan.
Salah satu kecelakaan besar sebelumnya terjadi pada 27 Oktober 2025 di jalan poros Ayawasi–Kumurkek yang melibatkan sepeda motor dan mobil Toyota Hilux. Peristiwa tersebut menewaskan tiga orang dan menyebabkan dua korban luka berat.
Sementara itu, pada 6 Maret 2023, kendaraan yang membawa rombongan Penjabat Gubernur Papua Barat Daya juga sempat mengalami kecelakaan di KM 110 akibat kondisi jalan licin dan tikungan tajam. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kecelakaan tersebut menyebabkan kerugian materi yang cukup besar.
Ketua terpilih Kamar Adat Pengusaha Papua Papua Barat Daya (KAPP PBD), Nikodemus “Abang Niko” Atanay, menilai sejumlah faktor menjadi penyebab seringnya terjadi kecelakaan di jalur tersebut.

Menurutnya, kondisi jalan yang memiliki banyak tikungan tajam, rumput di bahu jalan yang semakin lebat, serta faktor pengemudi seperti mengantuk, mabuk, dan berkendara dengan kecepatan tinggi sering berujung pada hilangnya kendali kendaraan.
“Banyak tikungan, rumput di kiri kanan jalan semakin lebat, ditambah lagi pengemudi yang mabuk, mengantuk, atau membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi sehingga akhirnya kehilangan kontrol,” ujar Niko.
Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) segera mengalokasikan anggaran untuk pembersihan bahu jalan dan pemeliharaan rutin di sepanjang jalur tersebut.
Menurutnya, jalan Sorong–Maybrat–Sorong Selatan merupakan jalur vital yang menghubungkan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.
“Jika kecelakaan terus terjadi, tentu akan menjadi hambatan bagi mobilitas masyarakat serta aktivitas perekonomian antara daerah,” katanya.
Selain itu, Niko juga berharap pemerintah dapat merencanakan pembangunan jalan dua jalur di beberapa titik rawan kecelakaan sebagai upaya meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Negara wajib hadir melindungi hak hidup masyarakat yang menggunakan jalan tersebut,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Nikodemus Atanay melalui pesan singkat WhatsApp kepada MetronusaNews.
