Metronusa News, Ciamis | Pengecoran rapat beton jalan menuju Pesantren Miftahul Inayah yang berada di Dusun Sindanghayu RT 17 dan RT 18, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, memasuki hari kedua pada Minggu (4/1/2026).
Jalan sepanjang kurang lebih 300 meter tersebut merupakan akses utama menuju pesantren dan selama lebih dari satu tahun mengalami kerusakan parah.
Diketahui, jalan yang berada di wilayah Dusun Sindanghayu RT 17 dan RT 18 ini merupakan jalan milik UDKP BBWS (Unit Daerah Kerja Pembangunan Balai Besar Wilayah Sungai).
Meski demikian, perbaikan jalan ini tidak sedikit pun menggunakan dana pemerintah, melainkan dibangun sepenuhnya melalui dana swadaya masyarakat.
Total anggaran yang dihimpun untuk pembangunan jalan tersebut mencapai Rp159.999.999,-.
Dana ini berasal dari berbagai elemen, di antaranya HAMIFI (Himpunan Alumni Miftahul Inayah), IQOMAH (Ikatan Qomunitas Jama’ah Hikam), Garda, Keakhwatan, para simpatisan pesantren, serta masyarakat umum yang peduli terhadap kondisi akses jalan menuju pesantren.
Tokoh masyarakat Banjarsari sekaligus Pimpinan Umum Pondok Pesantren Miftahul Inayah, KH. Yayan Ahmad Jalaluddin, S.Ag, menjadi sosok penggagas utama penggalangan dana tersebut. Ia menyampaikan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas kondisi jalan yang rusak cukup lama tanpa adanya kepastian perbaikan.
“Kalau kita hanya menunggu pemerintah, entah kapan jalan ini diperbaiki. Sementara jalan ini sangat vital bagi aktivitas santri, masyarakat, dan jamaah. Maka kami berinisiatif menggerakkan alumni, jamaah, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun,” ungkap KH. Yayan di sela kegiatan.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme warga yang tinggi. Sejak pagi, masyarakat bahu-membahu dalam proses pengecoran, mulai dari pengangkutan material hingga pengaturan lalu lintas sederhana. Gotong royong ini menjadi bukti kuat bahwa kepedulian dan kebersamaan masih menjadi kekuatan utama masyarakat pedesaan.
Kegiatan pengecoran jalan menuju Pesantren Miftahul Inayah ini menjadi contoh nyata bahwa pembangunan dapat terwujud melalui kebersamaan dan kemandirian masyarakat, tanpa bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah. Semangat rereongan dan swadaya ini diharapkan dapat menginspirasi wilayah lain dalam menyikapi persoalan infrastruktur yang mendesak.
