BMKG: Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, 64 Persen Wilayah Indonesia Berpotensi Lebih Kering

  • Bagikan

MetronusaNews.id | Nasional – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan datang lebih awal dari biasanya dan berpotensi lebih kering di sebagian besar wilayah.

Berdasarkan analisis iklim terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 64 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi kemarau di bawah normal, atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.

Awal Kemarau Diprediksi Lebih Cepat
BMKG menyebutkan awal musim kemarau di sejumlah daerah diperkirakan terjadi lebih cepat 10 hingga 30 hari dari waktu normal.

Kondisi ini diperkirakan mulai terjadi pada April hingga Juni 2026 di berbagai wilayah Indonesia.

Beberapa wilayah yang diperkirakan lebih dulu memasuki musim kemarau antara lain:
-Sebagian wilayah Pulau Jawa
-Bali
-Nusa Tenggara Barat
-Nusa Tenggara Timur
-Sebagian Sumatra bagian selatan
-Kalimantan bagian selatan

Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.

Potensi Kekeringan dan Karhutla
BMKG mengingatkan bahwa kemarau yang lebih kering berpotensi meningkatkan sejumlah risiko, seperti:
-Kekeringan di wilayah rawan air
-Penurunan debit sungai dan waduk
-Gangguan pada sektor pertanian
-Meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)

Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta mulai melakukan langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan pengaturan pola tanam di sektor pertanian.

Imbauan untuk Masyarakat
BMKG juga mengimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan selama musim kemarau.

Selain itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena kondisi cuaca kering dapat mempercepat penyebaran api dan memicu kebakaran besar.

Dengan prediksi tersebut, berbagai pihak diharapkan dapat melakukan mitigasi lebih awal guna mengurangi dampak kemarau panjang yang berpotensi terjadi pada tahun 2026.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *