Metronusa News, Banjarnegara Jawa Tengah | Akademisi dan Peneliti Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Prof. Totok Agung Dwi Haryanto, menegaskan pentingnya menghadirkan solusi konkret saat petani menghadapi persoalan klasik, yakni panen melimpah tetapi harga jual anjlok drastis. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Majelis Daerah (MD) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Banjarnegara, Senin (29/12/2025).
Menurut Prof. Totok, persoalan turunnya harga hasil pertanian tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi. Diperlukan perubahan pola usaha tani melalui hilirisasi produk pertanian, agar petani memperoleh nilai tambah dan tidak terus bergantung pada fluktuasi harga bahan mentah.

“Saat panen raya, petani sering berada pada posisi paling lemah karena harus menjual produk dalam bentuk bahan mentah dengan harga sangat rendah. Ini harus menjadi perhatian bersama. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah mengolah hasil pertanian menjadi produk jadi, dikemas dengan baik, dan dipasarkan secara lebih luas,” jelas Prof. Totok.
Lebih lanjut, Prof. Totok menekankan peran strategis generasi muda, khususnya dalam aspek pemasaran dan inovasi produk. Menurutnya, anak muda memiliki keunggulan dalam pemanfaatan teknologi digital, media sosial, serta jejaring pasar yang lebih luas.
“Di sinilah peran generasi muda sangat dibutuhkan. Mereka bisa masuk pada aspek pengemasan, branding, hingga pemasaran digital. Ketika produk pertanian sudah menjadi produk jadi, anak-anak muda bisa menjadi motor penggeraknya agar produk lokal mampu bersaing di pasar,” tegasnya.

Prof. Totok juga mengapresiasi MD KAHMI Banjarnegara yang telah menghadirkan ruang diskusi strategis antara akademisi, pemerintah, praktisi, dan pemuda. Ia berharap hasil seminar tersebut dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program nyata yang melibatkan petani dan generasi muda secara langsung.
Seminar Nasional Kebangsaan bertema “Menjaga Kedaulatan Bangsa melalui Ketahanan Pangan: Pilar Utama Indonesia Emas 2045” tersebut diikuti oleh sekitar 100 peserta dari MW KAHMI Jawa Tengah, MD KAHMI Banjarnegara, Kader HMI, organisasi kepemudaan, dan BEM perguruan tinggi se-Kabupaten Banjarnegara.
Seminar juga menghadirkan sejumlah narasumber kompeten lainnya dari berbagai latar belakang, yakni Musichah Setiasih, Kepala Bidang Ketahanan Bangsa Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah; Firman Sapta Ady, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara; serta Maman Fansyah, Praktisi dan Aktivis Lingkungan Hidup.

Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Banjarnegara yang diwakili oleh Anang Sutanto, Asisten Pemerintahan Setda Banjarnegara. Dalam sambutannya, Anang menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuda, dalam memperkuat ketahanan pangan sebagai fondasi kedaulatan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Koordinator Presidium MD KAHMI Banjarnegara, Sugeng Purwito, menyampaikan bahwa hasil dan rekomendasi dari seminar ini akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
“Hasil dari seminar ini akan kami sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten, harapannya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan,” jelas Sugeng.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan, pada kesempatan tersebut MD KAHMI Banjarnegara juga membagikan bibit pohon kepada seluruh peserta, sebagai simbol komitmen nyata dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.
