
MetronusaNews.id | Jakarta — Serangan brutal terhadap Wakil Koordinator Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengguncang ruang demokrasi Indonesia. Aktivis hak asasi manusia tersebut menjadi korban penyiraman cairan diduga air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Kamis malam (12/3/2026).
Peristiwa ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Banyak kalangan menilai serangan tersebut beraroma teror terhadap pembela HAM yang selama ini vokal menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan negara.
Kronologi Serangan
Berdasarkan informasi yang dihimpun MetronusaNews dari berbagai sumber lapangan dan jaringan masyarakat sipil, kejadian bermula saat korban pulang dari sebuah kegiatan diskusi publik di kawasan Jakarta Pusat.
Sekitar pukul malam hari, dua orang pelaku yang berboncengan sepeda motor mendekati korban dari arah belakang. Tanpa banyak kata, salah satu pelaku langsung menyiramkan cairan yang diduga air keras ke tubuh korban.
Serangan terjadi sangat cepat.
Korban langsung merasakan sensasi panas menyengat pada bagian wajah, tangan, dan tubuh. Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut segera memberikan pertolongan sebelum korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sumber medis menyebut korban mengalami luka bakar kimia cukup serius pada beberapa bagian tubuh, termasuk area wajah yang berisiko terhadap penglihatan.
Dugaan Teror Terhadap Aktivis
Insiden ini memicu kecaman luas dari organisasi masyarakat sipil.
Lembaga Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS menilai serangan terhadap Andrie Yunus bukan peristiwa biasa, melainkan indikasi kuat adanya upaya membungkam suara kritis pembela HAM.
Beberapa hari sebelum kejadian, korban diketahui aktif membahas isu sensitif terkait militerisasi kebijakan negara dan reformasi sektor keamanan dalam forum diskusi serta ruang publik digital.
Aktivitas advokasi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang memicu tekanan terhadap korban.
Sejumlah aktivis bahkan menyebut serangan ini sebagai “alarm keras bagi keselamatan pembela HAM di Indonesia.”
Polisi Buru Pelaku
Penyelidikan kasus ini kini ditangani oleh Polda Metro Jaya.
Polisi menyatakan tengah mengumpulkan bukti, memeriksa saksi, serta menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian untuk mengidentifikasi pelaku.
Informasi sementara menyebut pelaku berjumlah dua orang yang menggunakan sepeda motor dan langsung melarikan diri setelah melakukan aksi penyiraman.
Hingga saat ini aparat belum mengungkap identitas maupun motif pasti di balik serangan tersebut.
Desakan Pengungkapan Dalang
Kasus ini memunculkan tekanan publik agar aparat penegak hukum tidak berhenti pada pelaku lapangan semata.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak aparat untuk mengusut kemungkinan adanya aktor intelektual atau dalang di balik serangan tersebut.
Menurut mereka, pola serangan terhadap aktivis menggunakan air keras memiliki kemiripan dengan beberapa kasus kekerasan terhadap pembela HAM di masa lalu yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.
BOX INVESTIGASI – Fakta yang Menguatkan Dugaan Teror
1. Target spesifik
Korban merupakan aktivis HAM yang aktif mengkritik kebijakan keamanan negara.
2. Pola serangan terencana
Pelaku menggunakan motor, menyerang cepat, dan langsung melarikan diri.
3. Waktu kejadian
Serangan terjadi setelah korban mengikuti kegiatan diskusi publik.
4. Senjata kimia
Penggunaan cairan diduga air keras sering digunakan dalam aksi intimidasi serius.
Alarm Bagi Demokrasi
Serangan terhadap Andrie Yunus menambah daftar panjang ancaman terhadap pembela HAM di Indonesia. Jika tidak diusut secara transparan dan menyeluruh, kasus ini berpotensi menimbulkan ketakutan baru di kalangan aktivis sipil.
Publik kini menunggu apakah aparat penegak hukum mampu mengungkap siapa sebenarnya aktor di balik teror tersebut.
