Mojtaba Khamenei Pegang Kendali Iran! Pengaruh IRGC Menguat, Barat Waspada

  • Bagikan

MetronusaNews.id | Teheran, Iran –
Putra kedua Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, pada Senin (9/3/2026).

Penunjukan tersebut diputuskan oleh Assembly of Experts, lembaga ulama yang memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

Mojtaba Khamenei yang kini berusia sekitar 55 tahun dikenal sebagai figur kuat di balik layar kekuasaan Iran selama bertahun-tahun. Ia disebut-sebut memiliki pengaruh besar dalam lingkaran elite politik dan militer Iran, khususnya di tubuh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Tokoh Berpengaruh di Balik Layar Kekuasaan
Selama ini Mojtaba Khamenei jarang tampil di ruang publik. Namun sejumlah analis politik Timur Tengah menyebut dirinya sebagai “penjaga gerbang kekuasaan” di kantor pemimpin tertinggi Iran.

Ia diketahui memiliki peran penting dalam mengatur akses para pejabat tinggi, ulama, hingga komandan militer yang ingin bertemu dengan ayahnya saat masih menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Selain itu, Mojtaba juga memiliki latar belakang militer. Ia pernah terlibat dalam konflik Iran–Iraq War pada akhir 1980-an dan dilaporkan bertugas bersama unit yang berafiliasi dengan IRGC.

Penunjukan Picu Kontroversi
Pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran memicu kontroversi di dalam maupun luar negeri. Banyak pengamat menilai proses tersebut menyerupai suksesi dinasti, karena untuk pertama kalinya posisi tertinggi di Iran berpindah dari ayah kepada anak.

Selain itu, Mojtaba juga diketahui belum pernah memegang jabatan pemerintahan resmi sebelumnya, sehingga sebagian kalangan ulama dan analis politik mempertanyakan legitimasi politiknya.

Meski demikian, sejumlah faksi kuat di Iran, khususnya dari kalangan Garda Revolusi, dilaporkan memberikan dukungan penuh terhadap kepemimpinannya.

Reaksi Dunia Internasional
Penunjukan Mojtaba Khamenei langsung mendapat sorotan dunia internasional. Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan tersebut dan menilai kepemimpinan baru Iran tidak akan membawa perubahan signifikan dalam hubungan dengan Barat.

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menyampaikan ucapan selamat dan menegaskan dukungan Moskow terhadap stabilitas Iran.

Penunjukan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangkaian serangan militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi Timur Tengah Memanas
Para analis memperingatkan bahwa pergantian kepemimpinan di Iran berpotensi memperburuk ketegangan regional. Iran diketahui memiliki jaringan sekutu militer dan politik di berbagai negara Timur Tengah yang selama ini menjadi bagian dari strategi geopolitiknya.

Jika situasi konflik terus meningkat, kawasan Timur Tengah dikhawatirkan akan memasuki fase baru ketidakstabilan yang lebih luas.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *