
MetronusaNews.id – BOGOR, 08 Maret 2026 – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Laa Roiba Bogor mengubah momentum Ramadhan 1447 H menjadi oase kemanusiaan. Melalui kegiatan Buka Bersama dan Santunan Anak Yatim serta Jompo, organisasi ini menegaskan bahwa keberadaan alumni bukan sekadar deret nama dalam sejarah, melainkan tangan yang bergerak nyata untuk membasuh dahaga sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung khidmat di kediaman Pembina IKA PMII Laa Roiba, Kang Lukmanudin Ar-Rasyid ini, menjadi ruang perjumpaan antara ketajaman intelektual mahasiswa dengan ketulusan pengabdian. Di sini, nilai-nilai langit diterjemahkan menjadi bakti membumi, merangkul mereka yang seringkali terlupakan di sudut-sudut zaman,
Ikhtiar Membangun Kesadaran Spiritual
Dalam sambutannya, Ketua IKA PMII Laa Roiba Bogor, Kang Komarudin, M.Pd, menekankan bahwa agenda ini adalah upaya menjahit kembali retakan sosial melalui ukhuwah yang kokoh.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremoni Ramadhan, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar membangun kesadaran sosial dan spiritual di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat silaturahmi antara alumni, kader, dan masyarakat,” ujar kang komeng/komar sapaan akrabnya.
Bagi IKA PMII, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar secara fisik, melainkan sebuah madrasah ruhani untuk melakukan dekonstruksi ego.
Melalui kajian keislaman yang digelar, para kader diajak merefleksikan makna puasa sebagai proses pembentukan kesadaran moral yang tidak berhenti pada ritual, tetapi mengalir menjadi aksi nyata.
Pembina IKA PMII Laa Roiba Bogor, Kang Lukmanudin Ar-Rasyid, menegaskan bahwa kepedulian terhadap yatim dan jompo adalah denyut nadi dari identitas PMII.
“Keberpihakan kepada kaum yang membutuhkan adalah manifestasi nyata dari nilai keislaman dan keindonesiaan. Melalui kegiatan ini kami berharap kader dan alumni PMII terus hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan sosial,” ungkap Lukmanudin Ar-Rasyid dengan penuh penekanan.
Santunan yang diberikan tidak hanya berupa paket bantuan fisik, namun juga berupa kehangatan dialog dan kebersamaan. IKA PMII Laa Roiba percaya bahwa dengan menyantuni anak yatim dan memuliakan para jompo, mereka sedang menanam benih keadilan sosial yang kelak akan tumbuh menjadi pohon peneduh bagi bangsa.
Acara yang diwarnai dengan tawa anak-anak yatim dan keteduhan wajah para lansia ini ditutup dengan doa bersama. Sebuah pesan kuat tersirat: bahwa PMII akan selalu menjadi kompas moral yang memastikan cahaya kepedulian tetap menyala, meski di tengah kegelapan individualisme dunia modern.Tandasnya’.
