Kurikulum Terus Berganti, Siapa yang Sebenarnya Siap?

  • Bagikan

Metronusa News, Bogor | Pergantian kurikulum kembali menjadi perbincangan hangat dalam dunia pendidikan.

‎Dalam beberapa dekade terakhir, pendidikan nasional seolah bergerak dalam siklus yang sama:
‎kurikulum lama dianggap tidak relevan, kurikulum baru diperkenalkan dengan semangat
‎pembaruan dan sekolah diminta segera menyesuaikan diri. Perubahan ini seringkali
‎dipresentasikan sebagai langkah progresif. Namun pertanyaan yang lebih mendasar tetap
‎muncul: apakah seluruh ekosistem pendidikan benar-benar siap?

‎Kurikulum memang perlu berkembang. Perubahan sosial, kemajuan teknologi dan
‎tantangan global menuntut pendidikan yang adaptif. Namun, perubahan kebijakan yang terlalu
‎cepat dan berulang justru berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak diiringi kesiapan
‎yang memadai. Inilah persoalan utama pendidikan kita hari ini.

‎Guru menjadi pihak yang paling terdampak langsung. Mereka dituntut memahami
‎paradigma baru, menyusun ulang perangkat ajar, menyesuaikan metode pembelajaran,
‎sekaligus mengubah sistem penilaian. Semua itu sering harus dilakukan dalam waktu singkat.
‎Pelatihan memang disediakan, tetapi tidak selalu merata dan berkelanjutan. Dalam praktiknya,
‎banyak guru belajar sambil berjalan, bahkan sambil menebak-nebak arah kebijakan.

‎Masalah ini diperparah oleh beban administratif yang belum berkurang. Di banyak
‎sekolah, pergantian kurikulum justru menambah jenis laporan, format penilaian dan tuntutan
‎dokumentasi. Akibatnya, energi guru terkuras pada urusan administratif, bukan pada
‎pendalaman proses belajar-mengajar. Jika kondisi ini terus berlangsung, tujuan kurikulum
‎untuk menghadirkan pembelajaran bermakna akan sulit tercapai.

‎Peserta didik juga tidak selalu berada dalam posisi yang siap. Perubahan pendekatan
‎belajar dan sistem evaluasi menuntut kemampuan adaptasi yang tidak merata pada setiap siswa.
‎Sekolah dengan fasilitas memadai dan guru yang mendapatkan pendampingan intensif tentu
‎lebih siap dibandingkan sekolah yang kekurangan sumber daya. Tanpa kesiapan sistemik,
‎pergantian kurikulum berisiko memperlebar kesenjangan mutu pendidikan.

‎Peran orang tua pun kerap luput dari perhatian. Dalam konteks pembelajaran yang
‎semakin menekankan keterlibatan keluarga, orang tua dihadapkan pada istilah, metode dan
‎pendekatan baru yang tidak selalu mudah dipahami. Sosialisasi kebijakan yang terbatas
‎membuat sebagian orang tua kesulitan mendampingi anak secara optimal, terutama di jenjang
‎pendidikan dasar.

‎Persoalan mendasar terletak pada cara kita memaknai kurikulum. Kurikulum sering
‎ditempatkan sebagai solusi utama atas berbagai persoalan pendidikan. Padahal, kurikulum
‎sejatinya hanyalah instrumen. Tanpa kesiapan guru, ketersediaan sarana, serta budaya belajar
‎yang mendukung, kurikulum terbaik sekalipun berisiko berhenti menjadi dokumen kebijakan
‎semata.

‎Perubahan kurikulum seharusnya didahului evaluasi menyeluruh terhadap kondisi riil
‎sekolah. Pelatihan guru perlu bersifat berkelanjutan, bukan sekadar formalitas di awal
‎penerapan. Pendampingan harus konsisten, dan ruang adaptasi perlu diberikan agar sekolah
‎dapat menyesuaikan kebijakan dengan konteks lokalnya. Stabilitas kebijakan menjadi kunci
‎agar pendidikan memiliki arah yang jelas dan berkesinambungan.

‎Pertanyaan yang perlu terus diajukan bukan lagi “kurikulum apa yang paling ideal?”,
‎melainkan “apakah sistem pendidikan kita sudah cukup siap untuk berubah?”. Tanpa kesiapan
‎itu, pergantian kurikulum hanya akan memindahkan masalah dari satu kebijakan ke kebijakan
‎berikutnya.

‎Jika negara sungguh ingin memperbaiki kualitas pendidikan, fokus utama tidak boleh
‎berhenti pada pembaruan kurikulum. Investasi terbesar justru harus diarahkan pada penguatan
‎guru, pemerataan fasilitas pendidikan, dan konsistensi kebijakan. Pendidikan tidak diukur dari
‎seberapa sering kurikulum berganti, tetapi dari sejauh mana perubahan itu benar-benar
‎berdampak pada proses belajar di ruang kelas.


‎Profil Penulis:

‎Selvy Yuspitasari adalah Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas
‎Pamulang. Ia aktif menulis dan meneliti isu-isu pendidikan serta kebijakan publik, khususnya terkait pengembangan kurikulum dan profesionalisasi guru.

Penulis: SofianEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *