
MetronusaNews.id | Internasional – Ketegangan perang di Timur Tengah terus meningkat setelah Iran menyatakan siap menghadapi kemungkinan invasi darat Amerika Serikat di tengah serangan militer besar yang dilakukan AS dan Israel terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak takut jika Amerika benar-benar mengirim pasukan darat. Bahkan, Iran menyatakan siap menghadapi perang tersebut dan memperingatkan bahwa langkah itu akan menjadi “bencana besar bagi pasukan Amerika.”
“Kami menunggu mereka. Kami yakin mampu menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana bagi mereka,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan media internasional.
Pernyataan keras tersebut muncul setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar terhadap berbagai fasilitas militer dan strategis Iran sejak akhir Februari 2026. Serangan tersebut memicu balasan Iran berupa serangan rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan militer Amerika.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa hingga saat ini invasi darat bukan menjadi rencana utama, meskipun opsi tersebut belum sepenuhnya ditutup jika situasi konflik semakin memburuk.
Analis militer menilai Iran memiliki sejumlah faktor yang dapat menjadi keunggulan jika perang berubah menjadi konflik darat, antara lain jumlah pasukan besar, wilayah geografis yang sulit ditembus, serta jaringan milisi sekutu di berbagai negara Timur Tengah.
Situasi konflik ini membuat dunia internasional semakin khawatir karena eskalasi perang berpotensi meluas menjadi konflik regional yang lebih besar, bahkan dapat berdampak pada stabilitas keamanan global dan lonjakan harga energi dunia.
Hingga saat ini, operasi militer masih didominasi serangan udara, rudal presisi, serta operasi drone, sementara komunitas internasional terus menyerukan upaya de-eskalasi dan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
*Dikutip dari berbagai sumber
