
Metronusa News | NTT —
Maria Goreti Te’a (47), ibu kandung YBR, bocah berusia 10 tahun yang meninggal dunia secara tragis di Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya angkat bicara terkait berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Maria mengungkapkan, pada pagi hari sebelum peristiwa memilukan itu terjadi, YBR sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun, karena khawatir anaknya tertinggal pelajaran, ia tetap meminta YBR untuk masuk sekolah.
“Tidak ada firasat apa pun. Saya hanya ingin dia tetap belajar,” tutur Maria dengan suara bergetar.
Hingga siang hari, kabar duka itu datang. Maria mengaku sangat terkejut saat mengetahui anaknya telah pergi untuk selamanya.
Terkait isu yang menyebutkan bahwa YBR meninggal dunia akibat permintaan uang Rp10 ribu untuk membeli buku dan pena yang tidak dipenuhi, Maria dengan tegas membantah kabar tersebut. Ia memastikan informasi itu tidak benar dan tidak pernah terjadi.
YBR diketahui merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, YBR tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh sang nenek di sebuah pondok sederhana berdinding bambu.
Ayah YBR telah merantau ke Kalimantan sejak sekitar 11 hingga 12 tahun lalu dan hingga kini tidak pernah kembali.
Dalam kesehariannya, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya berjualan sayur, ubi, serta kayu bakar.
Untuk memenuhi kebutuhan makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, dengan pisang dan ubi sebagai menu paling sering dikonsumsi.
Peristiwa tragis ini menjadi potret nyata kerasnya kehidupan yang masih harus dihadapi sebagian anak-anak Indonesia.
Anak yang seharusnya menikmati masa bermain dan belajar, justru dihadapkan pada beban hidup yang tak semestinya mereka pikul.
Kejadian ini menjadi alarm keras bagi negara dan tamparan bagi semua pihak, bahwa masih ada anak-anak yang hidup dalam keterbatasan ekstrem dan luput dari perhatian.
