Gubernur Tegaskan Biaya Bongkar Tiang Monorel Jakarta Hanya Rp254 Juta

  • Bagikan
Dokumentasi Gambar Ilustrasi AI

Metronusa News, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa biaya pembongkaran fisik tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hanya sekitar Rp254 juta, jauh lebih kecil dari isu Rp100 miliar yang sempat beredar di publik.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menyatakan bahwa terjadi kesalahpahaman dalam memaknai anggaran pembongkaran tiang monorel.

“Biaya membongkar tiang monorel itu tidak sampai ratusan miliar. Pembongkarannya hanya sekitar Rp254 juta. Yang Rp100 miliar itu adalah anggaran penataan kawasan secara keseluruhan, bukan semata-mata memotong tiang,” ujar Pramono.
Menurut Pramono, angka Rp100–102 miliar yang ramai diperbincangkan merupakan alokasi APBD DKI Jakarta untuk penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said setelah tiang monorel dibongkar. Anggaran tersebut mencakup perbaikan badan jalan, trotoar, drainase, penerangan jalan umum, taman kota, hingga fasilitas pendukung pejalan kaki.

Tiang Mangkrak Sejak Proyek Dihentikan Sebagai informasi, proyek monorel Jakarta dihentikan sejak lebih dari satu dekade lalu. Sejumlah tiang beton yang telah berdiri di ruas strategis ibu kota, khususnya di HR Rasuna Said, hingga kini belum dimanfaatkan dan dinilai mengganggu estetika kota serta fungsi ruang publik.

Pemprov DKI memastikan pembongkaran dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan lalu lintas dan lingkungan sekitar. Proses teknis akan dilakukan secara bertahap untuk meminimalkan dampak kemacetan.

Pemprov Pastikan Transparansi Anggaran
Gubernur Pramono juga menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk transparan dalam penggunaan anggaran, sekaligus meluruskan informasi agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

“Saya ingin publik memahami secara utuh. Yang mahal itu penataan kotanya, bukan bongkar tiangnya,” tegasnya.
Pemprov menargetkan kawasan HR Rasuna Said menjadi koridor jalan yang lebih tertata, ramah pejalan kaki, dan representatif sebagai pusat aktivitas bisnis ibu kota setelah pembongkaran rampung.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *