Diduga Tak Berdaya, Kapolsek Panai Tengah Gagal Tangkap BC Alias Bitcar, Pengendali Narkoba Ajamu

  • Bagikan

Metronusa News, Labuhanbatu | Maraknya peredaran narkoba yang diduga kuat dikendalikan BC alias Bitcar di wilayah Ajamu, Kecamatan Panai Tengah, kian memantik kemarahan publik. Aparat Polsek Panai Tengah dinilai gagal menunjukkan ketegasan dan keberanian untuk menangkap sosok yang disebut-sebut sebagai pengendali utama jaringan sabu di kawasan tersebut.

Ironisnya, aktivitas transaksi narkoba ini disebut berlangsung secara terang-terangan dan nyaris tanpa gangguan hukum.

Berdasarkan keterangan warga yang enggan disebutkan identitasnya, transaksi sabu kerap terjadi di sekitar kediaman BC. Titik transaksi berada di sisi dinding belakang rumah BC yang belum dicat, berdekatan dengan rumah milik Soleh yang memiliki usaha kedai.

Lokasi tersebut dinilai strategis karena tertutup dari pandangan pasar, terhalang bangunan kedai lain serta rumah keluarga BC.

“Semua orang tahu. Mau beli sabu tinggal datang ke situ. Tapi seolah dibiarkan,” ujar seorang warga dengan suara berbisik kepada tim wartawan.
Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi transaksi narkoba tersebut hanya berjarak sekitar 15 meter dari Masjid Nurul Iman. Kondisi ini menimbulkan keresahan mendalam di tengah masyarakat, terutama karena lingkungan tersebut juga dihuni banyak anak-anak dan remaja.

“Kami takut. Ini dekat rumah ibadah. Tapi dia tetap eksis, stand by jualan, seperti kebal hukum. Kami menduga ada setoran, makanya aman-aman saja,” ungkap warga lain sebelum meninggalkan lokasi dengan tergesa.

Sorotan publik kini mengarah ke Polres Labuhanbatu. Masyarakat mempertanyakan komitmen penegakan hukum di bawah kepemimpinan AKBP Wahyu Endrajaya, mengingat dugaan aktivitas ilegal ini telah berulang kali diberitakan media, namun belum juga berujung pada tindakan tegas.

“Atau jangan-jangan setoran itu juga sampai ke atas? Kami sebagai warga hanya bisa bertanya,” kata warga dengan nada kecewa.

Peredaran sabu di Ajamu disebut sudah menjadi rahasia umum, diketahui hampir seluruh lapisan masyarakat. Namun, aparat penegak hukum justru dinilai seolah menutup mata dan telinga.
“Kalau dibiarkan terus, generasi muda kami yang jadi korban. Ini bukan masalah kecil lagi,” tegas warga.

Publik menilai pembiaran yang berlarut-larut ini berpotensi menghancurkan masa depan anak-anak muda Desa Ajamu sekaligus mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.

Tim media Metronusa News menegaskan akan terus memantau dan mengawal kasus ini demi transparansi dan keadilan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *