Demo Sopir Truk 26 Januari 2026 Diduga Sarat Kepentingan Tertentu

  • Bagikan

Metronusa News, Papua Barat Daya | Aksi unjuk rasa yang digelar pada Senin, 26 Januari 2026, dan mengatasnamakan aktivis serta sopir truk di Papua Barat Daya, belakangan menuai sorotan publik. Pasalnya, di balik tuntutan yang disuarakan, muncul dugaan adanya kepentingan tertentu yang menyusup dan memanfaatkan aksi tersebut untuk tujuan di luar aspirasi murni para sopir truk.

Sejumlah kejanggalan terpantau selama aksi berlangsung. Salah satunya adalah kehadiran beberapa peserta yang diduga bukan berasal dari kalangan sopir truk. Mereka justru disebut-sebut sebagai pihak yang selama ini dikenal sebagai pemain dalam distribusi bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai motif sebenarnya dari pelaksanaan aksi tersebut.

Seorang narasumber terpercaya yang enggan disebutkan namanya, berinisial AK, mengungkapkan bahwa bukan hanya komposisi peserta aksi yang patut dipertanyakan, tetapi juga pihak-pihak yang diduga berada di balik pendanaan aksi, termasuk konsumsi dan kebutuhan logistik lainnya.

“Terlihat jelas tidak semua sopir truk ikut turun ke jalan. Bahkan kami menduga ada pihak lain yang ikut membiayai aksi ini. Ini bukan lagi murni soal aspirasi sopir truk,” ujar AK kepada Metronusa News.

Sementara itu, Ketua Media Center Papua Barat Daya, James, turut menyoroti isi orasi salah satu orator aksi yang mengklaim mengetahui aktor dan pemain di balik distribusi BBM bersubsidi di wilayah tersebut.
“Saya merasa aneh. Jika memang mengetahui siapa pemain BBM bersubsidi dan memiliki bukti, seharusnya dilaporkan secara resmi atas nama kepentingan rakyat, bukan hanya berteriak di jalan,” tegas James.

Menurut James, pernyataan yang disampaikan tanpa diiringi langkah hukum yang jelas justru membuka ruang spekulasi bahwa isu BBM hanya dijadikan alat tekanan, bukan benar-benar diperjuangkan demi kepentingan publik.

Ia juga menyoroti maraknya proyek-proyek pemerintah yang membutuhkan pasokan BBM dalam jumlah besar, baik solar, bensin, maupun minyak tanah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu persaingan tidak sehat di lapangan.

“Ketika kebutuhan BBM meningkat, justru muncul aksi-aksi seperti ini. Jangan-jangan ada persaingan bisnis gelap yang sedang dimainkan. Apalagi lokasi yang disebut dalam orasi tidak hanya satu titik, dan persoalan BBM di wilayah ini sebenarnya sudah lama menjadi rahasia umum,” tambahnya.
Meski demikian, James menegaskan pihaknya tetap mengapresiasi perjuangan para sopir truk yang benar-benar menyuarakan hak dan kebutuhan mereka demi menafkahi keluarga. Ia mengaku memahami betul persoalan tersebut, mengingat pernah menjabat sebagai Ketua Serikat Sopir Truk Pelabuhan.

“Pada prinsipnya kami tetap mendukung perjuangan sopir truk. Namun kami berharap aksi seperti ini benar-benar murni berasal dari aspirasi sopir, bukan titipan kepentingan oknum tertentu,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak penyelenggara aksi belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan adanya kepentingan lain maupun tudingan keterlibatan pemain BBM dalam aksi tersebut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *