Metronusa News, Bogor | Ahok menolak keras rencana pemerintah menjadikan Papua sebagai kebun sawit. Dia berpendapat bahwa ekspansi sawit di Papua akan merusak ekosistem hutan hujan tropis dan mengancam keberlangsungan flora dan fauna. Ahok juga menyoroti bahwa sawit bukan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari Afrika, dan penanaman sawit di Papua akan memperbesar risiko bencana lingkungan.
Menurut Ahok, pemerintah harus meniru langkah Malaysia yang menanam sawit di bekas lahan tambang, bukan dengan membabat hutan. Dia juga menekankan bahwa hutan Papua memiliki ekosistem yang jauh lebih kompleks dibandingkan kebun sawit yang bersifat monokultur.
Penolakan Ahok ini sejalan dengan kekhawatiran banyak pihak bahwa ekspansi sawit di Papua akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat adat.
Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan ingin mengembangkan sawit di Papua untuk menghasilkan swasembada energi, namun rencana ini mendapat penolakan dari berbagai pihak karena kekhawatiran akan dampak lingkungan dan sosial.
Suku Awyu dan Suku Moi di Papua juga menolak rencana ini karena hutan mereka akan diubah menjadi perkebunan sawit, yang akan merusak sumber kehidupan dan budaya mereka. Mereka telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung untuk membatalkan izin perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah mereka.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan rencana menjadikan Papua sebagai kebun sawit pada tanggal 16 Desember 2025. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara, Jakarta, di mana ia berharap Papua ditanami sawit untuk produksi Biofuel (BBM) demi swasembada energi nasional.







