Ketika Dokter Menjadi Benteng Terakhir Kehidupan

  • Bagikan
Oplus_16908288

Metronusa News, Boolang Mongondow, Sulut | Oleh : Mat A’bo Mokoginta. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti seberapa besar beban yang dipikul oleh seorang dokter.

Di balik jas putih yang tampak tegar, tersimpan hati yang setiap hari berperang antara harapan dan kenyataan. Ada detik-detik penuh kegelisahan ketika seorang dokter berusaha sekuat tenaga mempertahankan nyawa yang berada di batas tipis antara hidup dan maut.

Dokter berlari, berpacu dengan waktu.
Mereka mengerahkan tenaga, pikiran, ilmu, pengalaman, bahkan air mata.
Mereka tinggal pada titik paling sunyi dalam profesi mana pun titik di mana keputusan sekecil apa pun dapat menentukan hidup seseorang. Dan mereka tidak pernah berhenti sebelum seluruh ikhtiar benar-benar ditempuh.
Karena bagi seorang dokter, setiap nyawa adalah semesta yang wajib diperjuangkan.

Namun ketika takdir berkata lain, dan pasien pergi…
Hati dokter-lah yang pertama kali hancur.
Mereka merasakan luka yang dalam, meski bukan kesalahan mereka. Mereka pulang dengan beban yang tidak terlihat mata, memutar kembali tindakan demi tindakan, mempertanyakan setiap keputusan, dan bertanya dalam hati:
“Apa lagi yang bisa aku lakukan?”

Ironisnya, pada saat mereka berada dalam kondisi paling rapuh dan manusiawi, sebagian orang justru datang bukan untuk memahami, tetapi untuk menyalahkan. Menghakimi. Bahkan mengkriminalisasi.
Seolah-olah dokter tidak berjuang.
Seolah-olah mereka tidak peduli.
Seolah-olah mereka bukan manusia yang juga terluka.

Padahal tidak ada satu pun dokter yang ingin kehilangan pasien.
Mereka mengabdikan hidup karena ingin menyembuhkan, bukan mencelakakan.
Karena ingin menolong, bukan menyakiti.
Karena di dalam diri mereka hidup jiwa kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Dan ketika seorang dokter yang telah bekerja sesuai prosedur, sesuai standar profesi, dan dengan ketulusan hati, justru diperlakukan sebagai tersangka…
Itu bukan hanya melukai satu pribadi.
Itu mencederai seluruh dunia kedokteran.
Itu membuat tenaga kesehatan takut, cemas, dan ragu untuk mengambil tindakan yang seharusnya dilakukan.
Dan pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah masyarakat itu sendiri karena dokter yang takut tidak mungkin dapat menolong dengan maksimal.

Maka mari kita berdiri bersama para dokter.
Mereka bukan musuh mereka adalah harapan.
Mereka adalah tangan-tangan yang bergetar saat berdoa demi keselamatan pasien.
Mereka adalah jiwa-jiwa yang tetap memilih berjuang, bahkan ketika hasil akhirnya bukan berada dalam kuasa mereka.

Hargai perjuangan mereka.
Lindungi mereka dari kriminalisasi yang keliru dan tidak berdasar.
Berikan keadilan bagi mereka yang bekerja tulus untuk menyelamatkan nyawa.

Karena ketika seorang dokter jatuh…
yang kehilangan bukan hanya dirinya,
tetapi kita semua.

Penulis: TimEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *