Tragedi Siswa SD Meninggal di Ngada, Gagal Cairkan PIP Jadi Sorotan Serius

  • Bagikan

Metronusa News, NGADA, NTT – Peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi alarm keras bagi sistem perlindungan sosial dan pendidikan di daerah terpencil.

Korban diketahui bernama Yohanes Bastian Roja (YBR), siswa SD berusia 10 tahun. Berdasarkan keterangan keluarga dan aparat setempat, sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat meminta agar dana Program Indonesia Pintar (PIP) miliknya dicairkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Namun upaya tersebut gagal karena terkendala persoalan administrasi kependudukan.

Terkendala Administrasi
Dana PIP yang seharusnya diterima korban tidak dapat dicairkan lantaran data kependudukan orang tua tidak sinkron. Kartu identitas ibunya masih tercatat di kabupaten lain, sehingga menghambat proses pencairan bantuan pendidikan tersebut.

Keluarga korban diketahui telah lama hidup dalam keterbatasan ekonomi. Selama bertahun-tahun, mereka juga tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial karena persoalan administrasi yang tidak kunjung terselesaikan.

Kondisi Keluarga
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara sang ibu harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam kesehariannya, korban lebih banyak tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia.

Keterangan keluarga menyebutkan, sebelum kejadian, korban sempat mengeluhkan tidak memiliki perlengkapan sekolah seperti buku dan alat tulis. Permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan biaya.

Respons Pemerintah Daerah
Pasca kejadian, pemerintah daerah setempat melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Ngada langsung turun tangan untuk menyelesaikan persoalan administrasi keluarga korban. Langkah ini dilakukan agar keluarga dapat segera masuk dalam data penerima bantuan sosial dan pendidikan.

Pemerintah daerah juga menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendataan dan penyaluran bantuan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah terpencil.

Sorotan Publik
Peristiwa ini memicu keprihatinan luas dari masyarakat. Banyak pihak menilai tragedi tersebut tidak bisa dilepaskan dari lemahnya akses bantuan pendidikan dan lambannya penyelesaian persoalan administrasi warga miskin.
Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar hak dasar anak, khususnya di bidang pendidikan dan perlindungan sosial, benar-benar terjamin dan tidak lagi terhambat oleh masalah birokrasi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *