
Metronusa News, Teheran — Iran masih berada dalam kondisi tegang menyusul gelombang kerusuhan dan unjuk rasa massal yang melanda negara itu sejak akhir Desember 2025. Pemerintah Iran mengakui sedikitnya 3.117 orang tewas dalam rangkaian bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, menjadikannya salah satu krisis domestik paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir.
Protes yang awalnya dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi tinggi, dan melemahnya nilai mata uang berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas. Aksi massa terjadi di hampir seluruh provinsi, termasuk Teheran, Isfahan, dan Mashhad, sebelum akhirnya ditekan melalui pengerahan aparat keamanan dalam skala besar.
Pemerintah Iran memberlakukan pembatasan ketat akses internet dan komunikasi, langkah yang dinilai bertujuan meredam koordinasi massa sekaligus membatasi arus informasi ke luar negeri. Meski protes besar di jalanan dilaporkan mulai mereda, situasi sosial tetap rapuh dengan penahanan massal dan proses hukum terhadap ribuan orang.
Kelompok hak asasi manusia internasional menyebut angka korban sebenarnya berpotensi lebih tinggi dari data resmi, serta menyoroti dugaan penggunaan kekuatan berlebihan terhadap warga sipil. Sementara itu, otoritas Iran menuding adanya campur tangan asing sebagai pemicu eskalasi kerusuhan, klaim yang dibantah berbagai pihak independen.
Hingga kini, komunitas internasional terus menyoroti perkembangan di Iran, dengan desakan agar pemerintah membuka akses informasi dan melakukan penyelidikan transparan atas jatuhnya ribuan korban jiwa.
