HEADLINE: Krisis Washington-Teheran Memuncak, Trump Desak Suksesi Kepemimpinan di Iran

  • Bagikan
Dokumentasi Gambar Ilustrasi AI

Metronusa News, WASHINGTON D.C. – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran mencapai titik nadir pada awal tahun 2026. Di tengah gelombang protes domestik yang melumpuhkan Teheran, Presiden Donald Trump secara terbuka menyerukan pengunduran diri Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei, memicu reaksi keras yang membawa kedua negara ke ambang konfrontasi militer.

Desakan Mundur dan Kritik Terhadap Rezim

​Dalam wawancara eksklusif bersama Politico pada 18 Januari 2026, Presiden Trump melontarkan pernyataan tajam yang menargetkan kepemimpinan tertinggi Iran. Trump menyebut Ali Khamenei bertanggung jawab atas tindakan represif terhadap ribuan demonstran di berbagai kota di Iran.

​”Sudah waktunya bagi Iran untuk memiliki kepemimpinan baru. Rezim ini telah gagal melindungi rakyatnya sendiri,” tegas Trump dalam pernyataan yang memicu perdebatan luas di Dewan Keamanan PBB.

Ancaman Balasan dan Peringatan “Pemusnahan”

​Pada Rabu, 21 Januari 2026, retorika semakin memanas menyusul laporan intelijen mengenai rencana serangan balas dendam dari Teheran. Menanggapi hal tersebut, Trump mengeluarkan peringatan keras melalui akun media sosial dan rilis resmi Gedung Putih. Ia menyatakan telah menginstruksikan militer AS untuk melakukan tindakan “pemusnahan” terhadap titik-titik strategis Iran jika terjadi upaya pembunuhan atau serangan terhadap aset dan personel Amerika.

Diplomasi “Pintu Belakang” di Tengah Siaga Militer

​Meskipun ketegangan militer meningkat, laporan dari sumber diplomatik menyebutkan adanya upaya de-eskalasi di balik layar. Pada 19 Januari 2026, Trump dilaporkan menunda rencana serangan militer langsung ke fasilitas nuklir Iran.

​Penundaan ini terjadi setelah adanya mediasi intensif dari Qatar dan Oman. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Washington memberikan tenggat waktu bagi Teheran untuk menghentikan eksekusi massal terhadap pengunjuk rasa sebagai syarat pencegahan serangan udara AS.

Respons Teheran: Deklarasi Perang Total

​Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menanggapi tekanan Washington dengan nada yang tidak kalah menantang. Dalam pidato nasionalnya, Pezeshkian menegaskan bahwa posisi Ali Khamenei adalah kedaulatan mutlak bangsa Iran yang tidak bisa diganggu gugat.

​”Segala bentuk agresi fisik atau upaya penggulingan terhadap Pemimpin Agung akan dianggap sebagai deklarasi perang total oleh seluruh rakyat Iran terhadap Amerika Serikat dan sekutunya,” ujar Pezeshkian dalam pernyataan resminya.

DATA POIN: Hubungan AS-Iran (Januari 2026)

  • Status Hukum: Tidak ada “surat penangkapan” resmi yang ditandatangani Trump; kebijakan AS tetap berfokus pada sanksi ekonomi dan tekanan diplomatik.
  • Tekanan Ekonomi: AS mengancam pengenaan tarif 25% bagi negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan sektor energi Iran.
  • Korban Protes: Data independen memperkirakan jumlah korban jiwa akibat kerusuhan di Iran telah mencapai angka ribuan, yang menjadi dasar Trump menuntut perubahan rezim.
  • Mediasi: Peran Qatar dan Oman menjadi kunci dalam menunda konfrontasi bersenjata langsung di Teluk Persia.

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan perkembangan situasi hingga 21 Januari 2026. Pembaca diharapkan waspada terhadap informasi tidak terverifikasi (hoaks) mengenai surat penangkapan internasional yang tidak memiliki dasar hukum formal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *