Trump Klaim Diri sebagai “Presiden Sementara Venezuela”, Dunia Internasional Bereaksi Keras

  • Bagikan
Dokumentasi Foto : Ilustrasi Gambar AI

Metronusa News, Washington/Caracas | Minggu, 11 Januari 2026.
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kehebohan global setelah mengklaim dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela” melalui unggahan di media sosial pada Minggu (11/1/2026). Pernyataan sepihak tersebut langsung menuai reaksi keras dari berbagai negara dan pengamat hubungan internasional.

Dalam unggahannya, Trump menyebut Amerika Serikat akan mengambil peran sementara dalam mengelola Venezuela pasca operasi militer AS yang dilakukan pada 3 Januari 2026, yang menurut klaim Washington berujung pada penangkapan Presiden Venezuela. Trump menyatakan langkah tersebut diperlukan demi menjamin stabilitas kawasan dan membuka jalan bagi transisi pemerintahan yang “aman dan demokratis”.

“Amerika Serikat akan memastikan Venezuela dikelola secara bertanggung jawab hingga pemerintahan transisi terbentuk,” tulis Trump.
Operasi Militer Jadi Latar Belakang Klaim
Klaim Trump tidak dapat dilepaskan dari operasi militer Amerika Serikat di Venezuela awal Januari lalu. Operasi tersebut disebut-sebut menargetkan struktur kekuasaan tertinggi negara Amerika Latin itu dan menjadi titik balik eskalasi konflik politik yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Namun, hingga kini belum ada legitimasi internasional yang mengakui klaim AS untuk mengambil alih kewenangan pemerintahan Venezuela.
Pengamat: Klaim Trump Berpotensi Langgar Hukum Internasional
Sejumlah pengamat geopolitik menilai klaim Trump sebagai presiden sementara Venezuela berpotensi melanggar prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.

Seorang pengamat geopolitik menyebut langkah tersebut sebagai preseden berbahaya.
“Jika klaim ini dibiarkan tanpa koreksi internasional, maka tatanan global berbasis kedaulatan negara akan melemah. Ini bisa menjadi pembenaran bagi intervensi sepihak di negara lain,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional lainnya menilai klaim Trump lebih bersifat simbol politik ketimbang keputusan yang memiliki kekuatan hukum.
“Secara politik, pernyataan ini memang mengundang perhatian dunia. Namun secara hukum internasional, klaim tersebut sangat lemah karena tidak didukung mekanisme multilateral,” katanya.

Sorotan Cadangan Minyak Venezuela
Trump juga menyinggung rencana Amerika Serikat untuk mengawasi dan menjual cadangan minyak Venezuela ke pasar global selama masa pemerintahan sementara. Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran luas, khususnya terkait potensi eksploitasi sumber daya alam negara tersebut.

Pengamat energi global menilai isu minyak menjadi faktor utama di balik ketegangan ini.
“Minyak Venezuela adalah aset strategis dunia. Ketika pengelolaannya dikaitkan dengan intervensi militer, maka konflik geopolitik hampir tidak terhindarkan,” kata seorang analis energi internasional.
Penolakan dan Reaksi Global
Pemerintah Venezuela secara tegas menolak klaim Trump dan menyebutnya sebagai tindakan sepihak yang tidak sah. Sejumlah negara di Amerika Latin dan Eropa menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi serta mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

PBB dilaporkan tengah mencermati situasi tersebut karena dinilai berpotensi memicu ketidakstabilan kawasan dan krisis kemanusiaan lanjutan.
Ketidakpastian Masa Depan Venezuela
Hingga kini, masa depan politik Venezuela masih berada dalam ketidakpastian. Klaim Trump sebagai “Presiden Sementara Venezuela” dinilai memperumit upaya penyelesaian krisis yang telah lama membelit negara tersebut.

Para pengamat menilai tanpa kesepakatan internasional dan proses politik yang sah, situasi ini berpotensi memperpanjang konflik serta memperburuk kondisi ekonomi dan sosial Venezuela.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *